Senin, 24 Juli 2017

Pelabuhan Hati (Bagian 9)


Pria itu bergegas berdiri ketika melihat Victor setengah berlari kearahnya. Tetapi sebelum sempat benar-benar tegak, ia menjatuhkan dirinya dengan mengarahkan kedua kakinya ke perut Victor. Pria itu mengerang, kakinya seperti menghantam batu. Ia jatuh terduduk. Posisinya tidak memungkinkan untuk berdiri dengan cepat-cepat. Satu-satunya yang ada dalam pikirannya hanya bagian dibawah pusar Victor. Sehebat apapun laki-laki, jarang yang dapat menahan hantaman di bagian itu. Pria itu menunggu agar Victor lebih dekat. Tepat ketika Victor berhenti di ujung kakinya, pria itu menekuk lutut dan menendang keras-keras bagian bawah pusarnya. Victor mengumpat sambil menunduk, lalu jatuh bertumpu pada kedua lututnya. Pria itu bergegas berlari ke arah Flori.

Sebelum sempat sampai di tempat Flori, pria itu jatuh. Ia menoleh dan melihat Victor memegangi pergelangan kakinya. Gayatri mengambil vas di meja kecil dan berlari menghantamkan vas ke kepala Victor.

Victor tampak marah. Entah darimana, tiba-tiba pria itu melihat pisau lipat di tangan Victor. Ia tak sempat berbalik dan berlari ke arahnya. Victor dengan buas membabi buta mengayunkan pisaunya ke arah Gayatri.Flori menjerit. Mata pria itu membesar melihat baju Gayatri berwarna merah.

Pria itu memutar badan keras-keras untuk memberikan tenaga pada putaran kakinya agar mengenai kepala Victor.

Victor masih dapat berdiri dengan bantuan lututnya, tetapi kepalanya tersentak ke samping. Pria itu meloncat dan kembali ke bawah dengan menjatuhkan lututnya pada kepala Victor. Kali ini Victor terjengkang dengan hidung berlumuran darah.

Pria itu menoleh ke tempat Flori. Mata gadis itu terpejam dan diam. Pingsan, pikirnya. Ia lantas melihat Gayatri. Wanita itu melambaikan tangan dengan lemah. Seakan-akan mengundang pria itu agar mendekatinya.

Ia duduk di sebelahnya dan mengeluarkan ponsel. Gayatri menarik tangannya.

“Tidak usah. Kalaupun mereka datang, aku juga tidak mungkin hidup.”

“Kita bisa mendapatkan darah di PMI.”

“Darahku rhesus negatif, butuh waktu mencarinya. Kalaupun dapat aku terlanjur kehabisan darah.” Suaranya melemah.

“Flori anakmu, darahnya mungkin sama denganmu.”

“Dia bukan anakku. Aku mengambilnya dari panti asuhan. Sudahlah, dengar. Waktuku tidak banyak.” Gayatri memberi kode agar ia lebih mendekat.

“Kamu polisi.”

Pria itu mengangguk.

“Sudah aku duga. Apa kamu mau merawat anakku.”

“Kamu akan baik-baik saja. Sekarang aku mau memanggil—“

“Percuma.” Gayatri jengkel. “Berjanjilah kamu mau merawat anakku.”

Pria itu tampak ragu, tetapi untuk menyenangkan Gayatri ia menjawab ya.

“Kamu mau menikahinya?”

Pria itu kaget. Matanya tidak percaya menatap Gayatri.

“Entahlah. Itu masalah Flori juga, bukan hanya aku.”

“Aku mau mati dan kamu masih pikir-pikir?”

“Flori masih muda. Pikirannya masih berubah-ubah. Aku tidak bisa memaksanya jika suatu ketika nanti dia memilih yang lain.”

“Justru kamu yang harus menyakinkan dia kalau kamu tepat buat dia. Aku tidak ingin dia seperti aku. Dia harus hidup normal. Tolong aku, berjanjilah.”

Pria itu berusaha menegakkan Gayatri agar dapat membopongnya keluar, tetapi Gayatri seperti menghambatnya.

“Siapa namamu?”

“Rommy.”

“Rommy aku minta tolong sama kamu. Aku mengemis ke kamu. Aku tidak percaya pria-pria lain. Jangan biarkan dia seperti aku. Nikahi Flori kalau dia dewasa nanti, please.”

“Aku janji.”

Gayatri tersenyum. "Lakukan ini supaya dia tambah suka kamu. Dia suka lampion, boneka panda, warna biru—"

Rommy heran wanita itu diam, ia menatap Gayatri, tetapi pandangan wanita itu kosong. Matanya masih terpaku menatapnya tetapi tubuhnya tidak bergerak-gerak lagi. Rommy meletakkan jarinya di depan hidung Gayatri dan menarik nafas panjang. Ia meletakkan tubuh Gayatri pelan-pelan di lantai dan menyapu matanya agar tertutup.

***

“Darahnya memang rhesus negatif?”

“Benar, Pak.” Rasyid duduk di sebelah Rommy. “Dan Gayatri menderita kanker stadium empat. Mungkin untuk itu dia memakai narkotika, agar rasa sakitnya tidak terasa.”

Rommy termangu menatap kebun di depannya. Berbagai pikiran melintas di benaknya. Tiga hari lalu Gayatri dimakamkan di pemakaman dekat kompleknya. Flori tidak menghadirinya. Sepanjang hari sejak ia siuman dan menyadari Gayatri meninggal, matanya membengkak karena terus-terusan terisak di dalam kamar. Rommy sudah menyuruh pegawai wanitanya untuk menghantar makanan, tetapi sepertinya tidak pernah disentuh. Rommy lantas meletakkan susu dan youghurt di meja kamarnya. Dan usahanya ini agak berhasil, meskipun sedikit, tetapi tampaknya Flori meminum sedikit susu.

“Pak Rommy—“

Rommy merasa lengannya disentuh.

“Saya pamit dulu.”

Rommy masuk ke dalam rumah. Pandangannya tertumbuk pada pegawai wanitanya yang baru keluar dari kamar Flori.

“Mau makan?”

Pegawai itu menggeleng. Rommy masuk ke kamar Flori. Tirai masih tertutup. Rommy membuka tirai dan jendela lantas mendekati ranjang. Flori memeluk guling dan menghadap tembok. Rambutnya kusut.

“Flori? Maem yuk? Aku suapin.”

Flori diam tetapi Rommy yakin Flori mendengarnya. Punggungnya tegang ketika tangan Rommy membelai rambutnya.

“Lihat. Badanmu yang kecil tambah kurus. Susah bedain kamu sama tiang jemuran.”

Sebuah guling melayang ke arah Rommy.

“Jarang makan aja masih sanggup nglempar guling. Coba kalau kamu makan banyak. Kamu pasti tendang aku.”

Flori diam. Rommy menggeser diri tepat di belakang punggung Flori dan merebahkan diri. Matanya menatap langit-langit kamar. “Kamu percaya takdir? Aku percaya. Percaya setelah seorang gadis tiba-tiba menyodorkan makan siangnya. Aku yang tidak percaya bahwa di dunia ini masih ada orang baik, berubah menjadi ragu akan pendapatku sendiri. Aku lantas berpikir ‘apakah Tuhan sengaja menunjukkan padaku bahwa dia inilah yang terbaik buatku?’

”Aku mulai menyukai gadis itu. Tapi aku bingung. Bagi pria seumurku, berpacaran dengan gadis semuda dia itu tidak etis. Dan kebingunganku bertambah ketika tahu aku tidak bertepuk sebelah tangan. Aneh, ya. Bingung tapi juga senang.”

“Apa masih tidak etis jika gadis itu mencintaimu tanpa dipaksa?”

Rommy menoleh. Flori berbaring menghadapnya. Ia memutar tubuhnya menghadap Flori. Sambil bertumpu pada tangannya, ia berkata. “Aku tahu dia benar-benar tulus. Tetapi tetap saja tidak adil jika memacarinya saat ini. Ia masih butuh banyak pengalaman untuk mengambil keputusan.”

“Kamu menganggapnya anak kecil?”

“Tidak. Aku memperlakukannya sebagai wanita dewasa. Oleh karena itu aku berani mencintainya. Tapi sepertinya dia tidak tahu jika aku benar-benar mencintainya.”

“Kenapa?”

“Karena dia tidak mau makan tiga hari ini. Kalau dia benar-benar mencintaiku, dia pasti mau makan.”

Flori mencubit pinggang Rommy. “Kamu pandai merayu. Suapin aku sekarang.”

“Nah, gitu dong.”

Rommy bangkit akan mengambil roti bakar beroleskan kornet telur di meja tetapi tangan lemah Flori menghentikannya.

“Aku pengin tanya satu hal saja. Please jawab jujur. Apa malam itu kamu menciumku.”

“Hemm…eh.”

“Kenapa cuma waktu itu?”

“Karena kamu tidak mau melepaskan aku.”

“Bukannya kamu akan sering melakukannya jika kamu benar-benar mencintaiku.”

“Kamu harus lebih percaya pada pria yang memperhatikan kamu seutuhnya daripada yang lebih ingin menyentuh badanmu.”

“Tapi bukannya itu yang dilakukan seorang suami kelak?”

“Ya. Kelak. Bukan sekarang.”

Rommy menyobek sedikit roti dan menyodorkan pada Flori.

“Jika kelak itu datang. Kamu mau melakukannya?”

“Ya, ampun, Flori. Tidak bisakah kamu makan dulu sebelum tubuhmu lebih ceking dari sekarang.”

“Please. Cuma sekali ini saja, habis gitu aku makan.”

“Ya, tentu saja. Itu kan hak dan kewajiban suami.”

“Dan kamu mau mengajari aku bagaimana cara membalasnya?”

“Ya. Ampun. Floriiiiiiiiiiiiiiii.”

Bersambung...

Sebelumnya: Bag 1, Bag 2, Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6, Bag 7, Bag 8

Sumber Gambar: pinterest.com

Pelabuhan Hati (Bagian 9) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar