Jumat, 02 Juni 2017

Pelabuhan Hati (Bagian 3)



Rommy berkali-kali melihat bangunan abu-abu di seberang telaga. Jarum jam berlari seperti siput setiap kali matanya menyatroninya. Kadang-kadang dia diam terpekur. Terkadang menggeliat seperti cacing kepanasan.

Saat jam menunjukkan waktu pulang sekolah, Rommy bergegas mendatangi jembatan. Ia berharap setidak-tidaknya melihat Floriana melintas. Tidak masalah cewek itu marah. Melengos pun juga oke-oke saja. Yang penting hatinya tenang, dan mengetahui Floriana baik-baik saja.

Tangan terlipat dan pantatnya tertempel di pagar jembatan. Satu persatu mobil menjemput murid-murid sekolah itu. Rommy tahu, Floriana berjalan kaki, jadi matanya malas mengamati mobil-mobil itu.

Sebuah mobil berjalan pelan-pelan menuju arah Rommy. Semula Rommy tidak terlalu perhatian. Namun semakin mendekatinya, matanya semakin menangkap gerakan-gerakan tak semestinya di jok belakang. Rommy sengaja tidak menunjukkan perhatiannya. Saat mobil itu melintas di depannya. Tiba-tiba sebuah kertas ditempel di kaca mobil. Tolong!

Rommy mengangkat dagunya. Diamatinya tangan itu, kemudian menelusuri sampai pada kepala pemilik tangan. Floriana. Matanya itu. Sayu. Capek. Dan—takut.

“Ada apa ini?” Rommy gelisah menatap bagian belakang mobil. Ia berlari beberapa meter dari situ untuk masuk ke dalam mobilnya dan langsung membututi tepat di bagian belakang mobil.

Floriana memutar kepalanya ke belakang. Pandangan matanya menatap Rommy. Memelas. Rommy semakin yakin, ada sesuatu yang tidak beres. Gas diinjaknya agak dalam, didahuluinya mobil itu untuk memotongnya. Rem berdencit. Telinga Rommy berdenging. Pintu terbuka lewat hentakan telapaknya. Suara orang mengumpat terdengar.

“Apa-apaan ini, Bung?” seorang pria bertopi dengan kacamata hitam keluar dari bagian pengemudi.

Rommy tidak menghiraukan. Dia menuju jok belakang, sekilas ia melihat seorang wanita duduk dekat kemudi. Ia membimbing Floriana keluar. Pria itu bergerak cepat ke arahnya.

“Hei, kamu mau apa?” tangannya hendak meraih tangan Floriana.

Rommy menepisnya. Muka pria itu padam. Wanita itu keluar dari mobil terperangah.

“Ada apa ini? Dia itu anak saya.”

Rommy melirik pada pria itu. “Dia ayahnya?” Rommy sudah tahu jawabannya, karena Floriana tidak pernah kenal ayahnya. Jadi pria ini pasti bukan ayahnya.

“Ya, Bung. Kenapa?” tantang pria itu.

“Perlihatkan KTP kalian berdua?” Rommy santai.

“Memangnya Bung polisi?” Tangan pria itu terkepal.

“Aku tidak akan melepas anak ini kalau kalian tidak menunjukkan KTP."

“Memangnya apa hakmu? Ini operasi yustisi?”

Rommy tidak sabaran, tangannya menyeret tangan Floriana ke mobilnya. Pria itu maju seketika tetapi terhenti karena Rommy menendang tulang keringnya. Pria itu mengumpat sambil jatuh terduduk.

“Saya akan panggil polisi.” Wanita itu mengancam.

“Tolong aku, Kak. Mamaku mau menjualku ke laki-laki itu,” bisik Floriana.

Rommy berang. “Jadi kamu mau menjual anak ini,” matanya tampak mengancam. “Kalau gitu baik juga kamu panggil polisi. Panggil saja cepat. Dan secepat itu juga kamu menginap di penjara hari ini.”

Wanita itu tampak gentar. Matanya melirik pria yang terduduk memegang kakinya. Mereka bertukar pandangan.

“Kamu menjual dia berapa?”

Senyum licik tampak samar pada bibir wanita itu. “Kenapa kalau iya? Kamu mau membelinya? Memangnya kamu orang kaya?”

Sudah jelas. Jelas sudah, pikir Rommy. Wanita ini memang benar-benar mau menjual anaknya sendiri. Dasar bajingan.

“Berapa kamu menjualnya. 5 Juta?”

Rommy mengambil tas di jok. Ia mengacungkan lembaran-lembaran seratus ribuan di muka wanita itu. “Ini lima juta.”

Wanita dan pria itu tergelak-gelak. “Tahu apa kamu tentang harga wanita. Dia masih perawan. Uangmu cuma recehan untuk harga perawan.”

“Shiit. Sebutin saja.”

“Dua puluh lima juta.”

Rommy menelan ludah. Dicobanya menyembunyikan perasaan. Ia mengaduk-aduk isi tasnya sampai menemukan buku panjang. “Aku tidak bawa uang segitu sekarang.” Tangannya menulis di kertas itu. “Tukarkan saja cek ini.” Tangannya mengangsurkan ke arah wanita itu.

Wanita itu terbeliak.
“Dan jangan coba-coba mengganggu Floriana lagi. Lihat kotak kecil di dashboard-ku. Itu CCTV, aku sudah merekam omongan kalian. Kalau kalian sampai macam-macam, aku bawa masalah ini ke polisi. Paham?”

Wanita itu tidak mengatakan apa-apa. Rommy menarik tangan Floriana dan menyuruhnya masuk di samping tempat kemudi. Mobilnya meninggalkan mereka tanpa protes dari wanita itu. Tetapi si pria tampak tidak terima, ia berusaha berdiri sambil mengumpat-ngumpat. Diacungkan tangannya tinggi-tinggi dan ia jatuh lagi terduduk sambil mengerang.

“Siiiiiapa pria itu? Pacar aaaaanakmu? Sombong. Berani sekali dia. Belum tahu siapa aku. Aku bunuh baru mampus dia."

Wanita itu tidak memperhatikan omongan pria itu. Ia termangu-mangu melihat selembar cek bertuliskan dua puluh lima juta.
***

Rommy menyandarkan punggung pada kursi. Dia tidak mengira, masalah Floriana sepeti ini. Dia hanya berpikir mungkin orangtuanya bercerai atau papanya lari dengan wanita lain. Ia memikirkan kata-kata semenjak Floriana masuk mobilnya. Tetapi gagal. Tak satu pun kata-kata yang pantas untuk diucapkan. Tak pernah ia dalam keadaan seperti ini, jadi bagaimana bisa mengatakan hal yang berhubungan dengan masalah ini?

Ia menoleh. Badan Floriana masih sesekali bergetar. Diulurkan kedua lengannya. Ditariknya Floriana ke arahnya.

“Menangislah. Aku menunggu sampai air mata itu habis,” bisiknya.

Tangan Floriana melingkari punggung Rommy.

“Beberapa hari lalu, aku menganggap kamu aneh. Tiba-tiba kamu datang. Menyapaku. Aku bingung, nih anak mau apa?”

Lirikan Rommy menangkap wajah Floriana tampak malu.

“Kamu bilang kamu sering melihatku. Hanya itu alasanmu. Sekarang aku tahu, mungkin Tuhan sengaja mempertemukan aku dengan kamu agar aku ada di saat seperti ini.”

Pelukan Floriana lebih erat. Kepalanya semakin tenggelam di dada Rommy.

“Kita terlalu cepat—maksudku—dari seseorang yang tidak kenal, kita menjadi sepeti ini."

“Aku ngerepoti, ya?”

“Bukan. Bukan itu maksudku. Aku hanya ingin mengatakan bahwa tiap kejadian pasti punya alasan untuk terjadi.”

“Yuk, masuk ke dalam.” Rommy membuka pintu mobil. “Aku tunjukkan tempat kamu tidur malam ini.”

Floriana duduk di tepi ranjang. Kepalanya pusing melihat-lihat segala pernak-pernik di kamar ini. Semuanya berbau perempuan. Floriana sempat berpikir kalau Rommy pernah punya anak. Tapi pria itu mengatakan bahwa belum ada nyonya Rommy di rumah ini.

“Ini pakaianku.”

Floriana kaget. Dia tidak mendengar Rommy masuk lagi ke kamar. Rommy meletakkan t-shirt dan celana hawai di sampingnya.

“Sorry, aku tidak punya pakaian perempuan. Entar sore kita ke mall buat beli pakaian.”

“Aku malah takut kalau kamu punya.” Floriana mengambil pakaian itu dan menciumnya. Kekuatirannya hilang. Rommy bukan pria jorok. Bajunya berbau pengharum pakaian.

“Oh, ya. Kalau kamu enggak punya pakaian perempuan lantas kenapa kamar ini seperti kamar cewek.”

Rommy terhenti dari membuka jendela. Ia berbalik menatapnya. “Aku pengin punya anak cewek kalau entar sudah menikah. Bahkan pengin kembar.”

Floriana meloncat dari tepi ranjang. Rommya kaget karena tidak menduga Flori melakukan itu.

“Wah, kok sama. Dari dulu aku juga pengin punya anak kembar. Kakak tahu, enggak. Di rumah aku punya boneka kembar. Peralatan boneka kembar. Sepatu. Sisir. Pakaian dan botol susunya juga.”

Rommy hampir meledak karena tawa. Tetapi diusahakannya agar tidak terlihat Floriana. “Namanya saja buatan pabrik, enggak heran kalau sama semua. Di laci meja kembarku aku juga punya tentara kembar,” pikirnya dalam hati.

“Sudah. Sekarang ganti pakaianmu dan istirahat. Aku tinggal dulu. Kita ketemu nanti sore.”

Rommy melambaikan tangan dan hendak menutup pintu.

“Kak Rom?”

Kepala Rommy menyelip di celah pintu.

“Terima kasih buat semuanya. Kamu benar. Tuhan mungkin mengirim kamu.”

Rommy tersenyum dan menutup pintu. Ia berharap Floriana tidak pura-pura gembira untuk menutupi perasaannya. Sikap Floriana yang terlalu riang tadi agak aneh untuk seseorang yang barus saja mengalami kejadian seperti dialaminya hari ini.

Floriana menghempaskan diri di ranjang. Kedua tangannya gontai mengembang kesamping. Sisa tumpukan air matanya mengalir pelan.

Bersambung ke Bagian 4, Bagian 5

Sebelumnya: Bagian 1, Bagian 2

Sumber gambar: pinterest.com

Pelabuhan Hati (Bagian 3) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar