Senin, 17 Juli 2017

Pelabuhan Hati (Bagian 8)


Rommy baru saja membuka pintu dan celingukan memandang ke arah dalam rumah.

“Flori sudah pulang?” tanyanya pada pegawainya.

Pegawai itu terdiam.Matanya mengarah pada kamar, kemudian kembali ke Rommy.

“Tadi sudah , Pak. Terus keluar lagi. Dan tadi saya—”

“Ada apa?” Rommy mendesak maju.

“Ada suara pecahan kaca di kamar.”

Rommy tidak menunggu kelanjutan cerita pegawainya, kakinya seperti melayang menuju kamar. Pecahan kaca berkeping-keping di depan meja hias. Sprei kasur berantakan. Karena intuisi, ia membuka lemari. Kosong.Rommy berlari ke kamar mandi.Tidak ada orang.

“Dia pergi mulai jam berapa?” tanyanya saat berbalik keluar.

“Satu jam lalu, Pak.”

Rommy memukul udara kosong.Sambil berkacak pinggang, ia memaksa pikirannya, “Kemana dia pergi?” Satu gambaran mengambang di pikirannya membuatnya takut.Rommy memacu mobilnya keluar dari rumah.

***
Rumah adalah kata yang pertama-tama mampir di bibirnya.Tanah tempat kakinya menjejak agak basah. Tanah di depan rumahnya memang kosong dan agak becek. Lahan tempat membangun rumahnya memang bekas rawa, sehingga sungai beberapa meter di depannya sering meluap dan membuat sisa-sisa biji atau rerumputan kembali bersemangat hidup.

Flori duduk pada sebuah sofa bekas yang dibuang orang.Pantatnya masih merasa nyaman diatas spon. Sayang sekali, pikirnya, kenapa mereka tidak memperbaiki saja daripada membeli yang baru. Sesekali ia menyibak rumput setinggi orang dewasa agar dapat melihat rumah di depannya.

Rumah adalah kata aneh kedua setelah cinta.Keduanya singgasana bahagia dan sedih. Kesedihan ingin melupakan rumah tetapi kerinduan akan suasananya membuat kita ingin kembali ke rumah. Mungkin ini maksud dari kata-kata mutiara hujan batu di negeri sendiri lebih baik dari hujan emas di negeri orang lain. Rumah Rommy memang emas.Tak ada yang kurang disana. Apalagi karena ia juga mencintai Rommy. Pria itu hangat.Tidak pernah marah.Kadang lucu.Kadang serius.Tetapi apakah ia masih pantas tinggal disana jika Rommy memang menyukai Martha. Flori tidak ingin menunggu diusir.Lebih baik harga dirinya disimpan daripada terbanting oleh kehadiran Martha.

Angin menerpa pelan membuatbeberapa helai rambutnya melambai.Ia mendongak. Burung-burung berwarna hitam mencicit lengking.Tampaknya mereka ketakutan karena awan meredupkan warna.Dugaan Flori membuat suara mereka sama sekali tidak mengganggu Pengertiannya melembutkan penilaiannya. Flori memakai tas ranselnya lagi. Tangannya masih sempat melipat kemeja flanel di kedua ujung lengannya sebelum kakinya melangkah menuju rumah.

Baru beberapa langkah, mulutnya seketika panas. Sesuatu menutupnya.Badannya terseret meskipun ia berusaha berontak sekuat mungkin. Semakin berontak sesuatu itu semakin erat menutup mulutnya.

***

Rommy mengendap-ngendap.Matanya terbuka lebar-lebar.Warung di samping kirinya hanya terisi dua orang.Satu orang menyeruput kopi. Satu lagi sedang membaca koran. Ia berjalan dan berdiri di bawah pohon sono berdaun lebar di seberang warung. Salah satu orang di warung melihatnya sekilas, kemudian bangkit dan berjalan ke arahnya.

“Kamu melihat perempuan muda lewat sini?”

“Tidak, Pak.”

“Apa kamu melihat ada seseorang berteriak dari rumah itu?” Rommy menunjuk dengan dagunya.

“Tidak, Pak.”

“Aku mencari gadis muda.Aku rasa dia berada di rumah itu.Salah satu dari kalian bisa bantu aku masuk kesana?”

“Maaf, Pak. Kami hanya diperintahkan mengawasi rumah itu.Kalau Pak Rommy mau masuk kesana, Bapak butuh perintah penggeledahan.”

“Terlalu lama, aku takut mereka menyakiti gadis itu.”

“Tapi kita bisa dipraperadilkan.”

“Aku tahu.Ya, sudah.Kamu kembali ke tugasmu.”

Pria itu melongo melihat Rommy tetap berjalan menuju rumah itu. Ia sendri berjalan cepat kembali ke warung menjumpai temannya.

***

Flori berusaha berteriak, tetapi kain penyumpal mulutnya terlalu kuat.Matanya terbuka lebih lebar ketika seseorang masuk ke kamar.

“Kamu lebih cantik kalau dilihat dari dekat.” Pria itu duduk di tepi ranjang. “Cukup pantas untuk harga dua lima.”

Keringat Flori membasahi pakaiannya.Kepalanya berkali-kali berusaha menjauhi pria itu, tetapi percuma, hampir seluruh sudut kursi menghadap ke arah ranjang.

“Kamu tahu? Banyak perempuan seusiamu sudah punya duit banyak.Nggak perlu minta-minta ke orangtua.Malah bisa membelikan orangtua mereka kulkas, HP baru, TV.” Pria itu mendekatkan diri. “Mau tahu caranya?”

Emmmm.Emm.Hidung Flori mencoba menghirup sebanyak-banyaknya.Sumpalannya menohok jalan pernafasan. Paru-parunya terasa pecah.

“Siang hari kamu cuma perlu ke salon. Malam hari kamu temui orang-orang yang ya….” Tawanya meledak.“Butuh sedikit perhatian dan tempat membuang uang.Jangan kuatir. Kamu kerja paling cuma lima sepuluh menit. Orang-orang seperti mereka gampang keluar.” Mata Victor mengedip-ngedip.

Flori memejamkan mata. Tangannya perih karena mencoba melepaskan tali di pergelangannya. Pria itu berada di belakangnya.

“Rambutmu bagus. Sering ke salon?” Hidungnya mengendus rambut Flori. “Kamu perempuan yang pandai merawat diri. Banyak perempuan yang aku sebutkan tadi baru seperti ini waktu bekerja padaku.Tapi kamu lain. Kamu punya modal yang bagus.”

Pria itu mengambil kursi dan meletakkannya di depan Flori. Pantatnya membuat kursi plastik itu bergeser sedikit.Bunyinya serasa menyayat nyali Flori lebih kecil.Dua kakinya berusaha memundurkan kursi, tetapi sia-sia, tenaganya sudah mulai lemah.

“Hei..hei. Jangan malu-malu, Non. Meskipun punyamu tidak sebesar mamamu. Tapi lumayan lah”

Flori tidak bisa menahan air matanya.Matanya sudah berusaha terpejam untuk menghalau buliran-buliran hangat itu.Ia tidak ingin pria di depannya melihatnya takut, tetapi rasa itu tidak bisa disembunyikan. Ia hanya berharap satu keajaiban. Harapan yang pernah punah pada Rommy bangkit lagi.Ia ingin melihat Rommy mendobrak pintu itu. Menyelamatkannya dan memukul pria kurang ajar di depannya.Tetapi telinganya tidak mendengar suara mobil berdecit atau pagar terbuka.

Please, Rommy.

Pintu terbuka tiba-tiba.Gayatri masuk dan mulutnya ternganga.

“Jangan, Victor.”

“Eh, Gayatri.” Pria itu menoleh.“Kenapa jangan? Kamu sudah pernah ingin menjual anakmu.Kenapa sekarang tiba-tiba kamu menjadi ibu yang baik?”

“Hutangku sudah lunas.”

“Iya.Dan untuk itulah uang itu tidak ada di tanganmu karena masuk kantongku.Sekarang kamu punya kesempatan kedua.25 juta itu bakalan masuk kantongmu.”

“Aku tidak butuh.”

“Wow….” Victor terkekeh.“Beneran tidak mau ini?” Tangannya mengacung-acungkan seplastik bubuk berwarna putih. “Ini seharga lima puluh.Buat kamu aku korting, deh.”

Gayatri melotot memandang tangan Victor. Dengan sekuat tenaga ia berpaling ke arah Flori dan Victor. “Tidak Vic. Lepaskan anakku.”

Victor berdiri. Kursi terpelanting karena tendangannya. Flori menjerit tertahan mendengar suara tiba-tiba kursi yang menghantam dinding.

Victor berdiri di depan Gayatri sambil berkacak pinggang. Posisinya menyudutkan Gayatri pada tembok.

“Aku bosan bercinta dengan lonte sepertimu.”

“Aku bukan lonte.”

“Oh, ya.Terus apa namanya wanita yang mau bercinta dengan tua bangka untuk imbalan rumah seperti ini.”

“Dia suamiku.”

“Suami?” Victor bertepuk tangan. “Sekarang aku tanya kamu. Sebagai istri yang baik, pasti tahu dong dimana suaminya?” Victor mendekatkan telinga pada bibir Gayatri.

“Kamu tidak tahu? Oke.Aku beritahu. Sekarang tua bangka itu bersama istrinya. Istri yang asli.Dia cuma butuh kamu buat snack. Masih goblok aja nggak tahu?”

Gayatri menamparnya. Victor melotot. Tangannya memegangi dagu Gayatri.

“Seumur hidup tidak ada lonte yang berani nampar aku. Comberan mau jual mahal.”

Gayatri kesulitan memasukkan udara ke paru-paru. Cekikan Victor semakin kuat. Flori berusaha berdiri dari kursinya, tetapi terjatuh.Matanya tidak lepas dari Gayatri.

“Emmmm…emhhh,,,jammm.” Flori menatap Gayatri, lengannya berusaha menarik tali pengikatnya.

Kepala Gayatri pening. Pandangannya berwarna abu-abu. Victor menyeringai menatap Gayatri tanpa menyadari suara engsel pintu yang lepas. Sebelum sempat menoleh mencari tahu asal bunyi, ia merasa mual dan punggungnya terasa perih. Victor berbalik, pria di depannya membuatnya marah. Kakinya menendang pria itu yang tak menduga Victor masih berdiri setelah kursi menghantamnya.

Pria itu terjengkang. Sisa tenaga tendangan Victor menyeretnya membentur dinding. Flori melihat pria itu dengan mata terbuka lebar. Badannya meronta-ronta tak percaya bahwa ikatannya pada kursi sangat kuat.

Bersambung ke Bag 9

Sebelumnya: Bag 1, Bag 2, Bag 3, Bag 4, Bag 5, Bag 6, Bag 7

Sumber gambar: pinterest.com

Pelabuhan Hati (Bagian 8) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar