Kamis, 15 Juni 2017

Pelabuhan Hati (Bagian 5)


Floriana berdiri di samping mobil dengan pandangan curiga. Ia memperhatikan dua penjual baru dekat sekolahnya. Satu orang berjualan youghurt di bagian kanan.Satu lagi di sebelah kiri berjualan kopi. Mereka berbadan dan bermata besar. Potongan rambut mereka yang cepak membuat mereka lebih menyerupai bodyguard daripada penjual. Letak mereka memang jauh dari gerbang sekolah, sebab pihak sekolah memang tidak mengijinkan penjual memadati bagi depan sekolah, tetapi posisi mereka seakan-akan menjaga pintu masuk.

Matanya bertanya pada Rommy yang masih duduk di kemudi. Ia bersiap-siap hendak memundurkan mobil. Rommy hanya tersenyum kecil. Floriana berjalan pelan melewati mereka. Dari gerak-gerik penjual itu, Floriana yakin, dua orang ini adalah orang-orang Rommy. Raut mukanya tampak samar menghormati Floriana dan Rommy yang baru saja memutar di dekat mereka.

“Hai.”

Floriana menoleh.Ia melihat anak laki-laki berpotongan pendek mendekat dan duduk di kursi depan.

“Apa kabar?” tanyanya dengan bahasa indonesia aneh.

Flori tersenyum meskipun malas berbicara.Anak yang baru saja mendatanginya sudah dikenalnya sejak lama.Sejak pertama kali menginjakkan sekolah ini, Tamamura selalu mencoba mendekatinya.Flori sudah sering mencoba menghindari berpapasan dengan Tamamura, tetapi laki-laki itu tampak ulet.Lama-kelamaan Floriana cuek saja. Dia berpikir, seharusnya sejak semula ia tidak Ge-Er karena Tamamura memang tidak pernah mengatakan bahwa ia menyukai Floriana. Tetapi jika hanya berteman saja, kenapa Tamamura tidak mendekati perempuan yang lain.

“Tahun baru nanti aku mau pulang ke Jepang.”

Enggak tanya, batinnya, Floriana sebal.Bibirnya terpaksa terbuka demi alasan kesopanan.

“Kamu sudah pernah ke Jepang?”

“Belum.Memang bagus?” Floriana menyesal karena bertanya. Pembicaraan ini pasti lama, padahal ia ingin melamunkan kembali kejadian tadi malam.

“Bagus.Bagus sekali. Jepang negara indah seperti Indonesia—“ Tamamura bercerita bla-bla-bla. Beberapa kalimat kadang mampir di telinga Flori.Kadang tidak.Sampai suatu ketika—

“Bagaimana?”

Floriana mendengar pertanyaan bagaimana, tetapi tidak tahu apa yang dimaksud dengan bagaimana.

“Bagaimana apa?” tanyanya bingung.

“Kamu mau ikut?”

“Ikut? Ikut kamu?”

“Ya, ikut aku ke Jepang.”

Floriana menelan ludah.Dia ingin menyemprot Tamamura karena berani-beraninya mengajaknya pergi ke luar negeri padahal mereka tidak seberapa kenal, tetapi urung.“Mungkin itu adat orang jepang, ngkali? Atau sekedar berbasi-basi?” batin Flori

Bel masuk menyelamatkannya.Tamamura kembali ke kelasnya. Ketika jam istirahat, Floriana menyembulkan kepalanya melewati pintu. Matanya celingukan.

“Ada apa Flori?” Martha ikut-ikut celingukan.

Flori menampakkan kaki pelan-pelan meninggalkan kelasnya. Martha mengejarnya sampai kantin.

“Kenapa kamu begitu?” Martha duduk di depannya. Floriana tidak menjawab. Martha kesal. “Aku rasa pasti karena Tamamura?”

Glek. Floriana meletakkan telunjuk di depan mulut.“Ssst.”

“Nah, benar, kan. By the way, kalau kamu tidak mau, kasi ke aku.”

Floriana melihat mata Martha berbintang di bawah rambut pirangnya. “Setahuku keluarga amerikamu tidak suka jepang.”

“Suka atau tidak itu bukan urusan mereka. Di Amerika, anak yang sudah dewasa tidak perlu ijin orangtua sepanjang dia sudah mandiri. Indonesia lain, ya?”

Floriana tidak menjawab. Pandangannya jatuh pada Tamamura. Cowok itu duduk dua meja di depannya. Kotak bekalnya berwarna merah. Isinya dua susi, acar jepang, dan sesuatu tampak seperti sayur digoreng tepung.

Martha kesal karena Floriana tampak tidak memperhatikannya. Kepalanya berputar ke arah Floriana memandang.

“Dia lagi. Kamu tidak suka, kan? Kenapa masih lihat-lihat?”

Floriana menyembunyikan senyum. Sekarang ia tahu kalau Martha benar-benar menyukai Tamamura.

“Kamu pasti menyukainya? Benar? Kenapa tidak kamu katakan langsung.”

“Amerika dan Indonesia sama saja untuk urusan ini. Harus pria duluan yang ngomong.”

“Andai dia tidak pernah sadar kalau mencintaimu?”

“Aku sering mendengar orang disini bilang jodoh tidak akan kemana.” Martha menyesap susu coklat. Matanya seketika berbinar-binar.

“Ah, itu naif. Jodoh juga perlu diusahakan.”

Martha tertawa ngakak. “Rasanya bukan cuma aku saja yang sedang suka sama orang.” Bling-bling mata Martha membuat Floriana membuang pandangannya ke tempat lain. Rona merah pipinya gampang terdeteksi.

“Ayo ceritakan, kamu sedang jatuh cinta dengan siapa?”

Floriana menimbang-nimbang. Jari-jemarinya menggeser-geser permukaan cangkir perlahan-lahan.

“Umurnya jauh diatasku.”

“Oh,” Martha menutup mulutnya. “Orang tua?”

“Tidak setua itu. Masih dua puluhan.”

“Kamu tidak takut dibohongin? Banyak laki-laki dewasa yang mencari perempuan-perempuan seusia kita.”

“Dia tidak seperti itu.” Floriana mendekatkan mulutnya pada telinga Martha. “Dia pernah memelukku di ranjang dan dia tidak melakukan apa-apa.”

Martha memekik lebih keras. Floriana menutupkan telapak tangannya di mulut Martha. “Nonsense. Doesn’t make a sense. Setiap pria pasti menginginkan itu ketika bersama perempuan di tempat tidur. Kalian pasti sudah—”

No,” bisik Floriana sambil memelototkan mata. “Justru itu yang membuat aku menyukainya.”

Who is he? I want to know him so much.”

“Jangan.”

“Ah, kamu cemburu. Aku cantik ya jadi kamu takut dia suka sama aku.” Martha membelai-belai rambut pirangnya.

Floriana mencubit lengan Martha.

“Owwwh.”

“Awas ya kalau dia sampai suka kamu. Aku tendang kamu sampai Amerika.”

“Kamu harus memastikan dia laki-laki baik. Siapa tahu dia bersikap seperti itu supaya kamu jatuh cinta pada dia, di saat itu dia akan memanfaatkan kamu.”

“Aku yakin tidak.”

“Darimana kamu tahu? Seberapa lama kamu mengenalnya?”

“Tidak sampai sebulan.”

What? Are you crazy? Kamu baru mengenalnya dan sudah percaya? Kamu benar-benar harus mengujinya.”

Floriana jengkel. Wajahnya cemberut. Ia menghabiskan minumannya. “Oke. Begini saja. Aku beri kesempatan kamu mengujinya.”

“Caranya?”

“Goda dia. Jika dia sampai tergoda. Aku beri kamu seratus dolar.”

Really? You don’t mind if we—

“Ya. Jika dia tertarik sama kamu, aku berjanji tidak akan mengganggu kalian. Sebab sudah pasti dia laki-laki yang seperti kamu duga.”

“Kalau nanti bagiku tidak masalah dan kita berkencan.”

“Kamu suka pria seperti itu?”

“He…he…he. Aku tidak keberatan laki-laki sedikit nakal. Kalau terlalu baik tidak asyik.”

“Tapi tadi kamu bilang—“

“Aku memperingatkanmu bukan memperingatkan diriku. Bagaimana? Deal? Jangan menyesal lho kalau nanti dia jadi my boyfriend.”

Floriana menyumpah-nyumpahin dirinya. Menyesal. Dia takut jika Rommy tergoda. Martha bukan gadis jelek. Dia memiliki kesempurnaan tubuh seorang wanita. Jauh sekali dibandingkan dengan miliknya. Orang tidak akan menyangka kalau Martha masih seorang gadis remaja—belum berumur dua puluhan.

Martha mengulurkan tangannya, tak memberikan kesempatan Floriana berpikir lebih jauh. “Deal, buddy?

Floriana dengan ragu menjabat tangan Martha. Gadis amerika itu tertawa lebar. “Oke, sekarang begini rencananya.” Mulutnya mendekati telinga Floriana.

***

Floriana sedang berpikir keras. Rommy yang duduk di sebelahnya memegang tangannya. “Ada apa? Kamu tampak gelisah. Mamamu mengirimkan orang ke sekolah?”

Floriana menggeleng. Pandangannya lenyap menuju awan. Bibirnya tergigit dirinya sendiri tanpa sadar. Rasanya ia ingin menangis. Tetapi ia sudah terlanjur sombong menantang Martha. Temannya itu memang sedang menyukai Tamamura. Tetapi orang lebih segan terhadap orang yang disukainya. Rommy beda. Martha dan Floriana bertaruh. Uang seratus dolar pasti membuat air liur Martha mengalir. Dia pasti tidak segan-segan dan malu-malu. Martha tidak menyukai Rommy seperti dirinya, dia tidak akan segan-segan menjadi agresif.

“Ada apa Flori? Ceritakan. Aku mau dengar. Atau kita mampir dulu di cafĂ©?”

Floriana menggeleng. Ia justru ingin cepat-cepat sampai rumah. Disana cuma ada dia dan Rommy. Tak seorang wanita pun membuatnya cemburu. Tak ada wanita yang akan dilihat Rommy. Dan ia yakin Rommy masih tetap miliknya. Di satu sisi, ia ingin tahu sampai level berapa kesetiaan Rommy, tetapi di sisi lain, ia takut kehilangan Rommy. Martha pasti menggunakan segala cara, meskipun dengan kecantikannya ia tidak perlu melakukan banyak hal.

“Rommy?”

Rommy kaget. Suara Flori terlalu dekat di telinganya. Ia meminggirkan mobil dan menoleh. “Ada apa?”

Please, tell me once. Do you love me?

You know.”

“Katakan sekali saja, dan aku berjanji tidak akan menanyakannya lagi.”

Rommy menggapai pundak Flori. “Yes, I love you so much.”

Flori memeluk Rommy sangat erat. Air matanya berusaha disesapkannya pada pakaian Rommy. Dia tidak ingin Rommy mengetahui apa yang dipikirkannya.Untuk pertama kalinya, ia takut kehilangan seseorang.

Bersambung ke Bag 6 , Bag 7 , Bag 8 , Bag 9



Sebelumnya: Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4

Sumber gambar: pinterest.com

Pelabuhan Hati (Bagian 5) Rating: 4.5 Diposkan Oleh: Yohanes Octa

0 komentar:

Posting Komentar