Biarkan Aku Mencintaimu (Bagian 7)

Senin, 15 Agustus 2016 · Posted in , ,



Deni membuka pintu kamar Syanne yang masih terang. Bu Karlista duduk disamping ranjang. Tangannya membelai-belai kepala Syanne ketika Deni melihatnya. Deni hendak menutup pintu saat Karlista meletakkan telunjuknya di depan bibir kemudian bangkit mengikuti Deni keluar.
“Bagaimana? Sudah ada keputusan?”
“Saya akan membicarakan dulu dengan Syanne, Bu.”
Karlista tidak puas tetapi tetap mengangguk. “Ya, sudah. Bicarakan yang baik-baik dengan Syanne. Mama pergi dulu.”
Deni kembali ke kamar Syanne setelah mengantar Karlista keluar dari ruko. Posisi Syanne masih sama seperti tadi. Deni berbalik lagi. Tidak tega membangunkan Syanne meskipun untuk membicarakan masalahnya sendiri. Sudah cukup masalah baginya untuk hari ini, batin Deni sambil menarik pintu, tetapi sebelum pintu tertentu, telinganya mendengar suara berdehem.
Kepala Deni melongok. “Belum tidur?” Deni duduk di tepi ranjang. “Enakan?”
Syanne mengangguk. Tangannya meraih tangan Deni dan menuntunnya ke kening. Dingin.
“Mama kamu cerita masalah kita?”
Syanne mengangguk.
“Apa komentarmu?”
“Bagaimana dengan Niken?”
“Aku dan Niken belum menikah. Tidak ada ikatan diantara kita.”
“Kamu tidak bisa begitu saja memutuskan dia. Jika masalahku sampai diketahui sekolah maka kamulah yang akan dipersalahkan. Masalahmu dengan Niken akan memperburuk reputasimu. Aku tidak bisa menerima itu. Aku akan jadi cewek paling egois sedunia jika tidak punya alasan yang cukup untuk menikah denganmu.”
Deni memegang tangan Syanne erat-erat. Dicarinya waktu saat denyut nadi Syanne menurun kemudian duduk bersimpuh di depannya.
“Mana yang lebih adil bagimu, apa yang dilakukan ayahmu atau aku meninggalkan Niken untuk menikah denganmu?”
“Jangan bawa-bawa ayahku.”
“Suka atau tidak itulah kenyataannya. Aku berpacaran untuk mengetahui sejauh mana aku cocok hidup bersama dengannya. Lebih baik aku putus saat pacaran daripada saat sudah menikah.”
“Tapi kamu belum pernah berpacaran denganku, bagaimana kamu bisa memutuskan kalau aku cocok dengan kamu?”
“Memangnya ada orang yang cocok seratus persen? Tetapi kita sudah hidup bersama beberapa hari ini, aku mengamati bagaimana kamu bersikap terhadapku, melihat cara kamu berbicara, mengetahui isi pikiran-pikiranmu tentang aku. Sehabis berbicara denganmu, aku tidak bisa tidur. Aku memikirkan segala perkataanmu. Aku menimbangnya dan memutuskan memilihmu.”
“Kenapa? Menurutku aku tidak lebih baik dari Niken. Dia masih suci sedangkan aku tidak. Kamu berpacaran dengannya, itu berarti dia lebih istimewa dari cewek manapun yang kamu temui, termasuk aku—“
“Aku sudah pernah membicarakannya. Aku menyukaimu tetapi aku—“ Deni menunduk. “Tidak punya nyali.”
“Apa itu berarti Niken cuma pelarian?”
“Tidak. Aku mencintainya. Tetapi aku lebih bahagia disampingmu. Kamu memberiku harapan akan sebuah keluarga. Bukan karena kamu mengandung, tetapi kamu punya pemikiran yang tidak semua cewek seumuran kamu punya. Kamu mau mempertahankan kandunganmu meskipun kamu tahu asalnya, bahkan kamu mau memaafkan ayahmu. Sejauh ini aku belum menemukan cewek dengan sifat seperti itu. ”
“Tentu saja. Aku berbeda dengan mereka.” Syanne mengelus-ngelus perutnya. “Aku tidak bisa berpikiran mau ke mall atau senang-senang pergi belanja setiap saat sekarang.” Mata Syanne memandang tajam pada Deni. “Kalau suatu ketika kamu menemukan cewek yang lebih baik dari aku, apa itu berarti kamu akan meninggalkan aku demi cewek itu?”
“Aku membuka mataku lebar-lebar sebelum menikah. Tetapi menutupnya rapat-rapat setelah menikah.”
“Meskipun aku gendut setelah melahirkan?”
“Hem eh.”
“Kalau entar jerawatan pas lagi bete?”
Deni tertawa. “Tetap.”
“Kalau aku tidak cantik lagi. Kulit keriput. Bukan artis lagi?”
“Hari ini aku berjanji pada Tuhan, biarlah Dia membalaskan lima kali lipat keburukan padaku atas segala keburukan yang aku akibatkan ke kamu. Aku yakin seyakin-yakinnya, Tuhan sengaja mengirimmu ke rumahku. Ia membuat alasan-alasan agar kamu cuma memilihku. Oleh karena itu aku yakin kamu untukku.”
Untuk pertama kalinya air mata Syanne mengalir deras. Usapan-usapan punggung tangannya gagal menghapus jejak-jejak hangat di sekitar pipinya. Telunjuk Deni mengangkat dagu Syanne. Ibu jarinya dengan lembut membantunya mengeringkan tanda-tanda hatinya.
“Jawablah ya untuk menjadi istriku. Dan aku tidak bingung harus bersikap bagaimana terhadap kamu. Jangan takut menjawab tidak jika itu maumu. Aku janji sikapku tidak akan berubah. Kamu tetap boleh tinggal disini sampai kamu menemukan seorang pria yang cocok bagimu.”
Syanne meletakkan keningnya pada dada Deni. Tangannya yang melingkari pinggang Deni membuat badannya tak berjarak. “Aku sudah menemukan pria itu di depanku, kenapa aku harus bingung memilih lagi,” bisiknya. “Kamu tidak perlu membuktikan apa-apa karena sejak awal aku memercayaimu. Aku hanya bingung terhadap diriku. Apa keputusanku mengecewakan Niken? Apa aku egois? Apa tidak sebaiknya aku menggugurkan anak ini? Kenapa aku harus memaafkan Papa? Kamu menyanjungku terlalu jauh. Aku takut penilaianmu tentang aku salah dan kamu kecewa.”
“Aku melamar manusia yang fana, bukan malaikat,” Deni mengusap punggung Syanne. “Aku berharap kamu juga menerima kelemahanku sama seperti aku menerima kamu.” Pelukan Deni merenggang. “Sekarang jawab pertanyaanku. Apa kamu mau menjadi istriku?”
Bibir Syanne terungkit. Bukan hanya pipinya yang merona, tetapi juga matanya.
“Ya, aku mau menjadi istrimu.”
***
Deni dan Syanne bangun lebih pagi. Mereka bisa merasakan bahwa hari ini adalah hari paling berat. Sudah jelas ada pengadilan kecil di sekolah. Dan dengan melamar Syanne tadi malam, Deni masuk ke dalam masalah Syanne. Apapun yang akan ditanggung Syanne akan menjadi tanggungan Deni juga. Ini belum termasuk masalah yang akan dihadapinya dari Niken.
Berulangkali Deni memikirkan dirinya sendiri tadi malam. Ia berulangkali bertanya pada dirinya sendiri apakah ia gegabah dalam mengambil keputusan. Ia takut bahwa keputusannya semata-mata hanya masalah romantisme belaka, bukan karena akal sehat. Benarkah dia mencintai Syanne ataukan hanya karena kasihan? Satu hal yang diyakini Deni, Syanne lebih membutuhkan seseorang daripada Niken. Syanne tidak punya pilihan. Papanya jelas tidak mendukungnya. Mamanya hanya mempunyai satu pilihan bagi Syanne. Gugurkan! Deni bisa memahami alasannya. Syanne sudah merintis karir artisnya sejak SMP. Kehamilannya akan merusak reputasi Syanne. Cowok mana yang mengidolakan artis remaja yang sudah hamil? Bukankah lebih enak jika membayangkan artis tersebut masih berstatus remaja pada umumnya, sehingga berfantasi membayangkan artis tersebut jadi pacarnya lebih membuat cowok-cowok itu mau membeli tiket ke pertunjukan mereka? Syanne menolak dan penolakannya membawa konsekuensi, Syanne harus menanggung akibat dari keputusannya sendiri.  
Gadis supel seperti Niken masih bisa mencari cowok yang dimaunya. Niken bukan cewek jelek. Kepribadiannya yang riang dan sikapnya yang selalu positif bisa membuatnya bangkit dari masalah apapun. Tidak dengan Syanne. Deni malah kuatir jika hati Syanne tidak dapat menanggungnya. Syanne yang pemurung akan bunuh diri.
Syanne patut mendapatkan kesempatan menikmati masa remajanya untuk kedua kalinya sesudah ia melahirkan. Dengan menikahinya, Deni memastikan Syanne akan mendapatkannya.
Deni memasangkan sepatu untuk Syanne. Perutnya agak membuncit, membuat Syanne kesulitan memasang tali sepatunya sendiri.
Deni berdiri diikuti Syanne.
“Hari ini kita akan menghadapi masalah bersama. Aku minta kamu jangan takut. Aku ada bersama kamu.”


BERSAMBUNG... 

Cerita sebelumnya:
Bagian 1, Bagian 2, Bagian 3, Bagian 4, Bagian 5, Bagian 6

*Sumber gambar: Karl Liversidge, https://www.artstation.com

Diberdayakan oleh Blogger.