Hotel

Kamis, 29 September 2016 · Posted in , ,




Erni ditugaskan di kota W. Kantornya selalu memberikan uang transportasi dan akomodasi yang cukup besar. Tapi dasar Erni orang pelit, dia sering mencari hotel paling murah yang bisa didapatkannya.
Hotel X ini membuatnya heran.Terbilang murah padahal penampilan hotel cukup wah jika dilihat dari luar. Bangunannya mirip gedung-gedung belanda jaman dulu. Dicat putih.Terdiri hanya tiga lantai, tetapi luasnya cukup untuk menampung 150 orang. Semuanya terdiri dari empat bangunan hotel mengelilingi kolam renang. Bisa dikatakan hotel ini berbentuk kotak jika dilihat dari atas.
Erni datang saat malam hari. Setelah registrasi, ia langsung menuju kamar. Satu hal yang ingin segera dilakukannya hanya tidur. Malam harinya ia terbangun. Ia menyesal langsung tidur. 
“Seharusnya aku makan dulu,” batinnya sambil memegang perut. Ia ingat bahwa seharusnya ia menerima welcomed drink tadi. Kakinya berjalan menuju pintu, berharap welcomed drink diletakkan bagian service di depan pintu.
Tangan Erni hendak memutar pemegang pintu. Telinganya menangkap sesuatu seperti diseret di atas karpet. Kepalanya berputar. Berjaga-jaga jika ada orang di kamarnya.Ia tidak melihat apa-apa. Sekali lagi suara itu terdengar. Sekarang Erni paham, suara itu bukan dari kamar, tapi di lorong depan kamar. Suaranya seperti roda tas koper yang berputar.
Erni melihat pada lubang pengintip di pintu. Heran. Kenapa lubang pengintip berwarna hitam seakan-akan tidak ada sinar di lorong. Erni sontak menjauhi pintu. Warna di lubang tidak hitam sepenuhnya.Ada lingkaran lebih kecil di tengah-tengahnya. Dan lingkaran itu bergerak seperti—mata!
Dia tergopoh-gopoh mencari sesuatu di tas. Ia mendapatkan gunting. Dengan penuh keraguan-raguan dibukanya pintu cepat-cepat dengan tangan kiri, sedangkan tangan kanannya mengacungkan gunting. Tidak ada siapa-siapa. Lorong diterangi lampu berwarna kuning pucat. Kepalanya melongok, menatapi sepanjang lorong. Ia lega ketika menatap ujung lorong. Sebuah CCTV tampak menempel di ujung koridor.
Erni mengambil welcomed drink dan menutup pintu. Badannya rebah di ranjang setelah meminumnya. Matanya terpejam, ingin melanjutkan kantuk. Belum sampai tiga menit, telinganya menangkap suara roda koper menggelinding. Suaranya lebih keras dari yang pertama seperti—berada di kamar ini.
Ia menyentuh tombol pada nakas. Matanya jelalatan mengejar asal suara.Tapi suara itu berhenti. Tangannya mengetuk-ngetuk dinding, siapa tahu terbuat dari triplek atau gipsum sehingga masih bisa mendengar  kegaduhan kamar sebelah. Ia beranjak ke kamar mandi setelah yakin bahwa temboknya cukup tebal. Tidak ada orang yang mungkin bersembunyi disini. Mungkin—pandangannya bergerak pada tirai di bathtube. Ia berjalan mendekatinya. Tangannya menyibak tirai. Kosong.
Dia berjalan ke arah pintu. Sebelum sampai pintu, matanya tertumbuk pada cermin di wastafel. Duh, kusut banget, keluhnya. Ia mengambil air dari kran untuk membasuh muka, kemudian mengangkat dagu untuk melihat cermin.
Ia mundur ke belakang. Wajah di cermin bukan miliknya. Rambutnya tidak sekusut itu. Lebih terkejut lagi, ia baru saja mundur ke belakang, tetapi pantulannya di cermin tidak bergerak sedikitpun.
“Perrrrgiiiii….perrrgiiii…," suaranya serak. Tampak jelas sosok itu kesulitan untuk berbicara. Tangannya memegang kaca dari sisinya. Seakan-akan dia berada di dunia dibalik cermin. Erni menjerit. Keluar dari kamar dan kembali sambil membawa beberapa orang Satpam.
“Disini, Pak. Tadi saya lihat orang disini.”
Dua orang Satpam masuk ke kamar mandi.
“Tidak ada siapa-siapa, Bu,” kata Satpam berambut botak. Ia menoleh pada temannya sesaat. “Mungkin ibu bermimpi.”
Erni tidak puas. Setelah Satpam pergi, ia menjelajahi seluruh dinding dan lantai dengan mengetuk-ngetuknya. Suatu saat ia berhenti pada lantai dekat sudut ruangan. Ketukannya terasa ringan.Setelah karpet terbuka, dibawahnya terletak papan berbentuk bujursangkar. Erni menarik tali pada sisi papan perlahan sehingga papan terangkat. Dibawahnya ada sebuah jalan dari kayu. Mata Erni tidak sanggup melihat ujung tangga karena tertelan gelap. Ia mengambil korek api gas di tas sekali lagi dan dengan penasaran menuruni tangga pelan-pelan.
Desiran dingin datang dari depan ketika sinar dari  api korek menerangi tempatnya berdiri. Disamping kirinya terdapat rak bertingkat. Masing-masing tingkatnya diisi oleh botol-botol mirip botol selai. Cairan di dalamnya berwarna coklat gelap, ditutup dengan semacam kain berbenang kasar berwarna coklat muda. Untuk melekatkan tutup kain dan botol, digunakan tali kecil berserabut; diikatkan sepanjang lingkaran atas botol.
Beberapa kotak persegi panjang tergeletak berbanjar. Kotak dekat tembok terlihat terbuka. Erni tertarik pada semacam akuarium di tengah-tengah ruangan. Pada satu sisinya terdapat kran. Cairan di dalamnya terlihat pekat dengan warna sama seperti cairan di dalam botol selai. Bedanya,  sesuatu berwarna gelap  tampak berada di bawah akuarium.
Telinganya menangkap sesuatu berderak di pangkal tangga. Ia mematikan korek dan bergegas mencari tempat sembunyi. Dari celah papan, matanya menangkap dua orang Satpam tadi sedang mencari-cari di seluruh ruangan. Sinar senternya beredar hampir sampai di tempat Erni. Ia mencoba menghirup nafas lambat-lambat. Sesaat kilasan lampu menerangi wajah mereka. Wajah kedua pria itu tidak seramah tadi.
Yang berbadan lebih kekar berjalan pelan menuju ke tempatnya. Erni semakin mengurangi gerak. Matanya setengah tertutup mengamati jarak pria itu dengan dirinya. Kepalanya menempel pada salah satu akuarium. Bayangan hitam yang sama seperti akuarium tengah mengusiknya. Matanya memicing, mencoba memperjelas pandangannya.
Begitu ia tahu apa yang dilihatnya, Erni seketika memekik sambil menutup mulutnya dengan tangan. Dua Satpam tadi berlari ke arahnya. Yang kekar langsung menjambak rambutnya. Erni berteriak, bukan lagi karena takut, tetapi jambakan si Kekar menyebabkan beberapa rambutnya tercabut.
Dengan meronta-ronta, ia mencoba membebaskan diri. Namun tenaga Erni makin terkuras. Ketika seretan Kekar membawanya sampai ujung tangga, Erni merasakan suhu ruangan turun. Ia—yang biasanya kebal terhadap hawa dingin—bergidik merasakan hawa itu seperti masuk ke seluruh pori-porinya. Dua Satpam saling berpandangan, tak lama sesudah lampu senter mereka mati mendadak. Wajah Botak, teman Kekar, berubah menjadi pasi. Ia melihat sesuatu berwarna hitam mengambang di udara. Benang-benang gelap berjatuhan dari bagian atasnya ke lantai.
Erni belum menyadari apa yang terjadi. Yang diingatnya saat itu tiba-tiba terdengar suara melengking. Dua Satpam sontak menutup telinga. Kekar lebih dahulu jatuh berlutut sambil menutup telinga. Botak jatuh berlutut hanya beberapa detik, badannya limbung dan jatuh melawan anak tangga paling dekat lantai.
“Perrrrrgiiii….perrrrgiii.”
Erni bangkit secepat yang ia bisa dan nekat meloncat dari kamarnya ke semak-semak dibawah. Berkali-kali terpeleset membuat lututnya perih dan berdarah. Tapi ia tidak perduli sampai menemukan kantor polisi. Erni ambruk tepat ketika selesai menceritakan pengalamannya.
Erni menjadi saksi di pengadilan. Beberapa fakta sempat didengarnya saat sidang pengadilan berjalan. Pemilik hotel sering menculik tamu-tamu hotel yang menginap sendirian. Tawanan itu diberi makan madu. Dalam sebulan semua cairan yang keluar dari tubuh mereka hanya berupa madu saja. Keringat mereka madu. Air seni mereka madu. Feses mereka madu. Setelah mati, mayat mereka direndam dengan madu sampai beberapa lama. Madu dari mayat-mayat ini dipercayai sebagai obat mujarab untuk berbagai penyakit. 

Diberdayakan oleh Blogger.